Pelor Keluar, Putaran Pelan: Benarkah Lebih Efektif Menangkap Emas?

Mengeluarkan Pelor dan Memperlambat Putaran Gelondong Saat Penangkapan Emas Sesuai Logika Kimia dan Fisika.

Secara logika fisika proses pemisahan mineral, pendapat tersebut cukup masuk akal, meskipun efektivitasnya tetap bergantung pada ukuran emas, kondisi material, dan kebersihan permukaan air raksa.

Dari sisi fisika:

  1. Air raksa memiliki berat jenis sekitar 13,5 g/cm³, jauh lebih berat daripada air dan sebagian besar mineral pengotor.
  2. Emas memiliki berat jenis sekitar 19,3 g/cm³ sehingga cenderung bergerak ke zona bawah pulp, mendekati air raksa.
  3. Pulp yang lebih encer memungkinkan partikel emas bergerak lebih bebas dan lebih mudah bersentuhan dengan air raksa.
  4. Putaran gelondong yang terlalu cepat dapat menciptakan turbulensi tinggi sehingga kontak emas–air raksa menjadi kurang optimal.

Dari sisi kimia:

Amalgamasi terjadi ketika permukaan emas bersih dan dapat bersentuhan langsung dengan air raksa.

Jika emas masih terbungkus oksida besi, lempung, sulfida, atau lapisan lain, maka meskipun putaran sudah ideal, amalgamasi tetap kurang efektif.

Kebersihan air raksa juga penting. Air raksa yang terkontaminasi atau mengalami "flouring" akan lebih sulit menangkap emas.

Namun, mengeluarkan pelor saat tahap penangkapan juga memiliki logika. Pelor lebih dibutuhkan pada tahap penggerusan dan liberasi. Setelah emas sudah terlepas dari batuan, kondisi yang lebih tenang sering kali lebih menguntungkan untuk proses kontak antara emas dan air raksa.

Jadi secara umum, membuat pulp lebih encer, mengurangi turbulensi, dan memperlambat putaran pada tahap penangkapan emas memang sesuai dengan prinsip fisika dan kimia, asalkan emas sudah cukup terliberasi dari mineral pengotornya.



Komentar