![]() |
Seorang Gadis. Foto: Pexels.com |
Di sebuah desa yang tenang, hiduplah seorang anak bernama Dika. Dika adalah anak yang ceria dan selalu penuh semangat. Ia sangat menyayangi keluarganya: ibu, ayah, kakak, dan adik.
Setiap pagi, Dika selalu bangun lebih awal untuk membantu ibunya menyiapkan sarapan.
Ibu Dika adalah wanita yang lembut dan penuh kasih sayang. Setiap kali Dika membantu di dapur, ibunya selalu mengajarinya resep-resep sederhana sambil bercerita tentang masa kecilnya.
"Kau tahu, Dika," kata ibu suatu hari, "Ketika Ibu seumurmu, Ibu juga suka membantu nenek di dapur."
Dika tersenyum mendengar cerita itu. Ia merasa bahagia bisa menghabiskan waktu bersama ibunya.
Setelah sarapan, Dika biasanya pergi ke kebun belakang bersama ayahnya. Ayah Dika adalah seorang petani yang rajin.
Ia selalu mengajarkan Dika tentang pentingnya merawat tanaman dan betapa pentingnya kerja keras.
"Tanaman ini seperti keluarga kita, Dika," kata ayah suatu hari. "Jika kita merawatnya dengan baik, mereka akan tumbuh dan memberi kita hasil yang baik."
Di sore hari, Dika sering bermain dengan kakak dan adiknya. Kakaknya, Rina, adalah seorang remaja yang pintar dan selalu siap membantu Dika mengerjakan PR.
"Ayo Dika, kita belajar bersama," kata Rina sambil membuka buku matematika. Dika senang sekali belajar dengan kakaknya karena Rina selalu sabar mengajarinya.
Adik Dika, Budi, masih balita. Meskipun usianya masih kecil, Budi selalu penuh energi dan keceriaan. Dika sangat menyayangi Budi dan sering mengajaknya bermain di halaman rumah.
Mereka berdua suka berlari-larian dan bermain petak umpet di antara pepohonan.
Suatu hari, desa mereka dilanda hujan deras yang menyebabkan banjir. Rumah Dika tergenang air, dan mereka harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Meski dalam keadaan sulit, keluarga Dika tetap saling mendukung dan menguatkan. Di tempat pengungsian, Dika melihat bagaimana ayah dan ibu bekerja keras membantu para tetangga. Rina menjaga Budi agar tetap aman dan tenang.
Malam itu, di tempat pengungsian, Dika merenung. Ia merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang begitu penyayang dan saling mendukung.
"Aku sayang ibu, ayah, kakak, dan adik," bisik Dika dalam hati. "Apapun yang terjadi, selama kita bersama, aku tahu kita bisa melewati segalanya."
Beberapa hari kemudian, air mulai surut dan mereka bisa kembali ke rumah. Dengan bergotong-royong, keluarga Dika membersihkan rumah dan memulihkan keadaan seperti semula.
Meskipun lelah, mereka merasa bahagia karena bisa kembali ke rumah dan berkumpul lagi.
Hari-hari berlalu, dan kehidupan kembali normal. Dika semakin menyadari betapa berharganya keluarga. Setiap momen bersama ibu, ayah, kakak, dan adik adalah anugerah yang tak ternilai.
Ia berjanji dalam hati untuk selalu menjaga dan menyayangi mereka, sama seperti mereka menyayangi dan menjaganya.
Dan begitu, di bawah langit desa yang tenang, Dika tumbuh besar dengan penuh cinta dan kasih sayang dari keluarga tercintanya. Mereka adalah sumber kekuatan dan kebahagiaannya, tempat di mana ia selalu merasa pulang.
Tunjukkan apresiasi Anda dengan memberi sumbangan kecil atau Donasi Via Dana Untuk Secangkir Kopi.
Komentar
Posting Komentar