Takut Menyatakan, Cinta Diterima

Gadis idaman
Gadis memegang buku. Foto: Pexels.com

Di sebuah kota kecil yang dikelilingi oleh perbukitan hijau dan ladang bunga, hiduplah seorang pemuda bernama Arga. 

Setiap pagi, Arga akan pergi ke toko buku tua di sudut jalan utama, tempat di mana ia bekerja sambil menjalani hari-harinya dengan tenang. 

Di toko buku itulah ia pertama kali melihat seorang gadis bernama Nara.

Nara sering datang ke toko buku tersebut, selalu mencari novel-novel klasik yang terpajang di rak paling belakang. 

Arga selalu memperhatikan Nara dari kejauhan, mengagumi cara gadis itu tenggelam dalam dunia kata-kata. 

Matanya yang berkilauan setiap kali menemukan buku yang diinginkannya, senyum yang mengembang saat membaca baris-baris favoritnya, membuat hati Arga berdebar tak karuan.

Hari-hari berlalu, dan keberanian Arga untuk mendekati Nara tak kunjung muncul. 

Setiap kali ia melihat Nara, keinginannya untuk berbicara dan mengenal lebih dekat selalu terbentur oleh ketakutan yang entah datang dari mana. 

Ia takut membuat kesalahan, takut ditolak, dan yang paling utama, takut menghancurkan keindahan bayangan sempurna yang telah ia ciptakan tentang Nara di dalam pikirannya.

Suatu sore yang mendung, Nara datang ke toko buku lebih awal dari biasanya. Dengan ragu, Arga mengumpulkan keberaniannya dan berjalan mendekati Nara yang sedang membaca buku di pojok ruangan. 

"Hai, Nara," sapa Arga dengan suara bergetar.

Nara mengangkat wajahnya dan tersenyum, "Hai, Arga. Ada yang bisa kubantu?"

Arga tersenyum kikuk. "Sebenarnya, aku hanya ingin bertanya... buku apa yang sedang kau baca?"

Mereka berbicara tentang buku, tentang kisah-kisah yang mereka sukai, dan menemukan bahwa mereka memiliki banyak kesamaan. 

Percakapan itu mengalir dengan mudah, membuat Arga semakin terpesona oleh kecerdasan dan kebaikan Nara. 

Seiring berjalannya waktu, mereka semakin dekat. Arga merasa hatinya dipenuhi oleh perasaan yang semakin kuat setiap kali mereka bersama. 

Namun, ketakutan itu masih ada, menghalangi lidahnya untuk mengungkapkan perasaan sebenarnya.

Suatu malam, saat mereka duduk di bangku taman kota yang sepi, Nara menatap Arga dengan tatapan lembut. 

"Arga, aku merasa kita sudah cukup lama mengenal satu sama lain. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan," kata Nara dengan suara pelan.

Hati Arga berdegup kencang, ia takut Nara akan mengatakan bahwa ia hanya menganggapnya sebagai teman. Namun, ia tak ingin kabur dari kenyataan. "Apa itu, Nara?"

Nara menghela napas dalam-dalam, lalu berkata, "Aku... aku suka padamu, Arga. Aku berharap kita bisa menjadi lebih dari sekadar teman."

Mata Arga membelalak tak percaya. Ia merasa dunia di sekitarnya berhenti berputar. "Nara, aku juga suka padamu," katanya dengan suara serak. "Aku hanya takut... aku takut menyakitimu, takut kau menolakku."

Nara tersenyum, menggenggam tangan Arga. "Tidak perlu takut, Arga. Perasaan kita sama. Kita bisa menjalani ini bersama, perlahan-lahan."

Dengan senyum lebar dan hati yang penuh kehangatan, Arga merasa beban yang selama ini menghimpitnya perlahan menghilang. 

Mereka berdua pun berjalan beriringan, siap menjalani kisah cinta yang baru dimulai, tanpa lagi ada rasa takut yang menghantui.

Sekian.




Tunjukkan apresiasi Anda dengan memberi sumbangan kecil atau Donasi Via Dana Untuk Secangkir Kopi.

Komentar